Art

Begini Cara Pelukis Jadul Selfie, Rumit Tapi Keren!

Sebuah foto bikinan Robert Cornelius pada 1839 dikenal sebagai selfie pertama. Akan tetapi, bila artinya diperluas hingga turut mencakup lukisan diri sendiri, maka sejarah selfie bisa dibilang jauh lebih tua dibandingkan fotografi sekalipun.

Pelukis Jan van Eyck yang tinggal di Belgia pada abad ke-15, misalnya, dikenal doyan melukis dirinya sendiri sambil memandangi cermin. Ketika itu baru ditemukan teknik memoles cermin dengan lapisan yang bisa membikin pantulannya tampak jauh lebih tajam dibanding sebelumnya. Inilah yang diduga memotivasi Eyck membuat potret diri seraya berkaca.  

Selain Eyck, seniman lain seperti Albrecht Durer asal Jerman juga diketahui gemar melakukan hal serupa. Begitu pula pelukis-pelukis yang beken di kemudian waktu seperti Vincent Van Gogh dan Frida Kahlo.

Lukisan berjudul Portrait of a Man (kiri) karya Jan Van Eyck dari tahun 1433 adalah salah satu potret diri tertua. Di sebelahnya ada foto selfie terawal jepretan Robert Cornelius pada tahun 1839.

Claus-Christian Carbon, peneliti dari University of Bamburg, Jerman, menilai bahwa, meski prosesnya jelas jauh lebih rumit, kebiasaan para seniman melukis diri sendiri itu mirip dengan selfie yang dilakukan oleh pengguna media sosial di era internet sekarang.

Sebagaimana dirangkum KompasTekno dari ArsTechnica, Kamis (16/2), baik para seniman dimaksud maupun pelaku selfie sama-sama hendak mengekspresikan diri. Hanya mediumnya saja yang berbeda.

“Durer, misalnya, menambahkan simbol-simbol status seperti baju dari kulit berang-berang yang hanya dikenakan kaum elit,” sebut Durer dalam sebuah paper tentang selfie.

“Padahal, ketika membuat potret diri dimaksud, Durer bukan orang kaya ataupun termasuk golongan orang elit di kota Nuremberg tempatnya hidup.”

Menurut Carbon, entah dalam bentuk lukisan atau jepretan smartphone, selfie merupakan menifestasi kebutuhan sosial dari manusia yang ingin mendokumentasikan hidupnya, penampilannya, dan berbagi pengalaman.

“Jenis berbeda dari penggambaran diri ini tak lain menunjukkan ‘conditio humana’ -atau kebutuhan kognitif dan afeksi dasar dari manusia,” tulisnya.

Seandainya para pelukis tersebut masih hidup sekarang, mungkin mereka akan sibuk bereksperimen dengan aneka filter di Snapchat atau Instagram ya? (Kompas.com)

Alvin Bahar

Mengawali karier di HAI sebagai reporter sejak 2012 dan kini menjabat sebagai digital content specialist. Pernah mewawancarai band nagri seperti Simple Plan, Deafheaven, Mogwai, dan AKB48. http://ameblo.jp/alvinissimo

comments

embed this article

Copy and paste this code into your website.

×