Skulizm

Keuntungan Jadi Pelajar SMA Yang Wajib Bikin Karya Tulis Ilmiah

Alifa ketika sidang mempertanggungjawabkan hasil penelitian karya tulis ilmiahnya
Foto by : Alifa

”(Mohon) dibantu kakak-kakak sekalian, untuk tugas saya,” tulis Giovanny, saat masih jadi siswa kelas XII SMA Tarsisius II Jakarta, di timeline LINE-nya. Di bawah status itu ia mengunggah link yang akan mengantarkan ke angket online yang berisi enam pertanyaan seputar clothing brand yang sering dipakai serta pengaruhnya terhadap gaya hidup.

Saat itu Gio, sapaan akrabnya, sedang disibukkan dengan tugas karya tulis ilmiah (KTI). Sambil ngumpulin literatur dari untuk bab duanya, Gio udah gencar nyebar angket. Gio yang dari jurusan IPS mengangkat tema tentang pengaruh industri clothing terhadap anak muda. 13 Februari kemarin, KTI itu dipresentasikan kepada para guru. Yap, dua-tiga bulan belakangan ini, temanteman dari beberapa sekolah lagi agak susahbanget diajak main. Alasannya nggak beda kayak yang sering dikeluarkan Gio, ”Pusing ngerjain kartul (karya tulis).”

Nggak kayak kakak-kakak kita yang baru akrab sama penelitian dan karya tulis ilmiah saat kuliah, tepatnya saat skripsi, beberapa sekolah sudah mewajibkan siswanya untuk bikin KTI sejak SMA bahkan ada yang jadi syarat kenaikan kelas dan keikutsertaan UN.

Prosedurnya nggak jauh beda sama pengerjaan skripsi. Tiap siswa akan dapet pembimbing, lalu kepada mereka siswa diminta mengajukan proposal penelitiannya. Setelah disetujui, penelitian pun dimulai. Selesai ditulis, hasil dipresentasikan lewat sidang.

”Kalau di sekolah aku sidangnya sampai pake baju rapih gitu. Cowok pake jas, cewek pake blazer,” kata Alifya Yunita, saat masih jadi siswa  kelas XII SMA Plus Pembangunan Jaya Tangerang Selatan yang udah lega setelah sidang KTI

EKSKUL DAN MAPEL RISET

 

Tugas KTI ini memang nggak sekomprehensif KTI pada masa kuliah nanti, tapi untuk pembekalannya sekolah nggak mainmain, tuh. Contoh aja SMA Plus Pembangunan Jaya, sejak kelas XI siswa dapat mata pelajaran baru, yaitu Metode Penelitian. Di situlah mereka dibekali tentang tahapan-tahapan serta metode penelitian.

 

”Di semester ganjil kelas XI, mereka belajar teori-teorinya. Lalu di semester genap mulai mengajukan judul penelitian. Di kelas XII, semester awal, adalah tahap finishing dan sidang,” cerita pak Sugimin sang Kepala Sekolah.

Begitu juga yang terjadi pada SMAN 6 Yogyakarta. Sekolah yang sudah melabeli diri sebagai Research School of Jogja ini bahkan nggak cuma ngasih mata pelajaran metode riset saja, melainkan sampai mendirikan research centre yang memajang karya-karya hasil penelitian, research day sebagai ajang pamer hasil penelitian terbaru, dan yang paling heboh adalah adanya ekskul penelitian! ”Iya, di sekolah aku tuh sampai ada ekskul penelitian, namanya RESEARCH.” cerita Kartika Puspita Sari siswa kelas XII IPA SMAN 6 Yogya.

Sementara di SMA Tarsisius II Jakarta, materi tentang penelitian diselipkan di mata pelajaran yang sudah ada. ”Metode penelitiannya diajari lewat pelajaran Sosiologi, sementara untuk teknik penulisannya diselipkan di Bahasa Indonesia,” jelas pak Kepala Sekolah Bernardus Bubun Beda.

beberapa karya tulis hasil penelitian siswa SMA Tarsisius II Jakarta
beberapa karya tulis hasil penelitian siswa SMA Tarsisius II Jakarta

KTI ADALAH OTORITAS SEKOLAH

Penyelenggaraan KTI itu emang nggak ada aturannya. Hal ini pun diakui oleh bapak Purwadi Sutanto, Kepala Pembinaan SMA, Kemendikbud. “Itu adalah otoritas dari sekolah. itu bagian dari pembentukan karakter, dan kami anggap sebagai penerjemahan dari peningkatan literasi siswa, kami sangat mendorongnya.”

Pak Tjipto, Kepala Kurikulum Kemendikbud, pun sepakat kalau potensi siswa nggak boleh dipagari, pemberian tugas KTI ini adalah cara sekolah untuk menuntun siswa mengeluarkan potensinya. Namun, beliau juga mengingatkan, “Jangan sampai dipaksakan, harus melihat minat dan perkembangan siswa juga.”

Ikut Kompetisi? Kenapa nggak.

Dasarnya, penerapan tugas KTI ini adalah demi membiasakan siswa untuk melakukan peneiltian sejak dini. ”Agar siswa terlatih menulis, melakukan penelitian, dan jadi siap sama tugas-tugas di perguruan tinggi nanti. Nantinya kan mereka akan sering dapet makalah, dan skripsi,” kata Pak Sugimin.

Tapi gimana jadinya kalau para siswa menganggap ini bukan sekedar latihan menulis saja, melainkan sebagai ajang menyalurkan minat dan potensi? Ya, di beberapa sekolah, ada juga penelitian yang dilakukan dengan totalitas serta mengangkat isu yang menarik.

Itulah mengapa tiap tahunnya selalu ada kompetisi penelitian remaja. Rutinnya, sih, digelar oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pak Bernardus pun selalu mendorong siswa-siswanya yang punya penelitian yang bagus untuk submit karya ke ajang tahunan itu. ”Walau nggak lolos, yang penting harus coba,” kata beliau.

Kartika Puspita Sari bahkan sudah mencicipi prestasi dari KTI-nya. Penelitiannya mengenai minyak mahoni swatina J. Lact, atau Kartika singkat menjadi Mas Shincan, sebagai pembasmi kerak pada batuan candi sukses bikin namanya jadi peraih medali perak di ajang Genius Olyimpiade di New York 2015 lalu.

Tepuk tangan!

Rizki Ramadan

Berkeliaran di halaman sekolah, sebagai wartawan, sambil mengawal HAI School Crew menulis untuk rubrik My School Pages.

comments

embed this article

Copy and paste this code into your website.

×