Lupa Password | Member baru? Daftar
Menawarkan musik ala ’80-an, trio yang terbentuk di Jogjakarta ini siap menyapa penikmat musik lokal.
( Penulis : Erick Tobing )
Buat yang suka musik dengan nuansa ’80-an, band yang satu ini jelas bisa jadi satu pilihan seru buat didengerin.
Mereka adalah Heyho. Tiga orang pemuda, yang mengaku siap bertempur di kerasnya industri musik Indonesia.
“Heyho itu kami ambil dari nama pasukan Jepang yang siap bertempur demi cita-cita. Sama kayak kami lah, siap bertempur demi cita-cita,” ujar Dede, pembetot bass di band ini.
Pertanyaan yang langsung muncul, jelas, apa sih cita-cita mereka sebenarnya? Well, ternyata merupakan hal sederhana, namun esensial, yang pasti dimiliki sama semua band baru yang nyebur ke industri. Apa lagi kalo bukan bisa sukses diterima di masyarakat?
“Siapa sih yang nggak mau sukses?” sahut Dede, jujur.
Ya, mereka emang menawarkan sikap jujur dalam bermusik. Kejujuran ini diharapkan bisa membawa mereka ke jenjang yang lebih tinggi lagi.
Selain Dede (bass/ vokal), band ini diperkuat oleh Danski (vokal/ gitar) dan Sevry (drum).
“Kami semua ketemu di Jogjakarta. Main bareng, sampai akhirnya sepakat bikin band. Waktu itu sekitar pertengahan 2007,” kenang Danski, yang punya nama asli Dani ini.
Cuma perlu sekitar dua tahun hingga mereka menemukan label yang akhirnya meminang mereka. Sebuah mini album pun dilepas, dan siap dijadikan senjata untuk berperang di kerasnya medan pertempuran.
Sang Idola, begitu judul mini album mereka. Berisi 5 track, mini album ini memajukan lagu Stasiun Tua sebagai singel pertamanya.
“Mudah-mudahan lagu ini bisa membawa Nama Heyho bisa lebih dikenal,” harap Danski.
Kalo ngomongin influence, beberapa nama band keluar dari mulut mereka. Mulai The Police, vhs or beta, sampai The Wombats mereka akui sebagai band-band yang mempengaruhi musikalitas mereka.
Penasaran? Silahkan dengarkan sendiri.
Copyright © Hai-Online All Rights reserved 2009
YourComments
Comments