Lupa Password | Member baru? Daftar
Dago Plaza, 26 Maret 2010. Mulai pukul 19.00 WIB!
Membawa semangat spontanitas, trio pop ini siap membawa musik mereka ke area yang lebih luas.
( Penulis : Adry Pratono )
Hanya bermodalkan satu album, Ran sukses menyeruak ke permukaan industri musik Indonesia. Deretan lagu pop nan catchy ala RAN pun terdengar di seantero negeri.
Selepas merilis deretan hits, trio yang terdiri dari Rayi (vokal), Asta (gitar), dan Nino (vokal) ini bersiap untuk merilis album keduanya. Udah jadi rahasia umum kalo album kedua, alias album sophomore banyak dianggap sebagai album pembuktian. Layaknya sebuah ujian, atas kesuksesan di album pertama. Nggak heran kalo banyak yang menjadikan album kedua sebagai momok yang mengerikan.
Mau nggak mau, hal ini mampir juga ke RAN. Apalagi, Ran sempat merilis dua singel yang udah wara wiri di tv dan radio, Tunjukkan Cintamu, dan Ratu Lebah. Repotnya, jadwal padat turut mengiringi hari-hari RAN, tepat disaat mereka mempersiapkan album kedua. Mereka harus berusaha ekstrakeras demi selesainya album baru di waktu yang tepat. Toh ternyata mereka menjalani semua itu dengan santai, dan cuek.
Ditemui Hai di salah satu studio musik di pojokan Jakarta Selatan, para personil RAN tetap kelihatan bersemangat. Padahal jam udah menunjukkan tengah malam, jack!
"Hari ini cuma Asta yang nge-take. Lancar lah hari ini. Asta termasuk cepet ngerjainnya. Dia bisa selesai nge-take satu album, cuma dalam dua hari!" ujar Nino
membuka obrolan.
Sambil mengaduk semangkuk mie instan yang ada di hadapannya, Nino bercerita tentang proses rekaman serba mepet, yang lagi mereka jalani. "Deadline-nya mepet banget nih! Paling nggak semua harus kelar dalam waktu sebulan lah!" keluh Nino.
"Eh, gue sambil makan nggak apa apa ya? Laper banget bos!" tambah Nino sambil menyuap mie instannya.
Berkat kesuksesan album pertama, mereka emang harus manggung disana-sini, hampir tiap hari. Imbasnya, waktu lowong yang tersedia nggak lagi banyak. Sampai-sampai, mereka harus membuat lagu sambil jalan, alias colongan boy!
Asta juga mengakui bahwa akhirnya mereka terbiasa untuk membuat lagu dengan kondisi serba mepet kayak gitu. Malahan, spontanitas kayak gitu lah yang menurut Asta memegang peranan penting untuk album kedua RAN.
"Di album kedua ini, kami emang banyak ngandalin magic moment kayak gitu ya. Harus sesuai mood-nya, momennya. Nunggu inspirasi datang. Nggak bisa dipaksain juga kan," terang Asta, panjang lebar.
Buktinya udah kelihatan. Dua lagu jagoan, Tunjukkan Cintamu, dan Ratu Lebah, berawal dari colongan di sela-sela jadwal padat. Tunjukkan Cintamu berhasil mereka bikin di tengah-tengah perjalanan ke Ujung Kulon. Saat itu mereka lagi membuat video klip untuk lagu dari album pertama, Selamat Pagi.
"Nah, kalo Ratu Lebah itu, kami bikinnya di backstage salah satu stasiun TV swasta. Tau sendiri lah, kalo mau syuting gitu kan nunggunya lama banget. Kami manfaatin aja buat bikin lagu. Eh, kebetulan jadi! Hahaha!" sambar Nino.
Meskipun dikejar tenggat waktu yang mepet, RAN justru sedikit merubah sistem dalam proses kreatifnya. Mereka nggak lagi mengumpulkan lagu sebanyak-banyaknya, dan menyeleksi kemudian. Mereka memilih untuk konsentrasi banget di satu lagu, sampai benar-benar jadi, baru beralih ke lagu selanjutnya.
Hasilnya, lagu yang tercipta emang nggak sebanyak dulu. Tapi menurut Nino, dengan sistem kayak gini, mereka lebih puas dengan hasilnya. Kualitas lagu yang tercipta jadi lebih maksimal.
"Capek sih emang pake sistem kayak gitu. Soalnya emang butuh usaha lebih keras. Kami benar-benar harus memeras otak. Dan kami juga lebih pakai rasa ya ngerjainnya. Karena kami menggarap sebuah lagu sebagai sebuah project. Benar-benar dipikirin banget semuanya," tambah Nino, panjang lebar.
Di balik semua tekanan itu, mereka mendapatkan sesuatu. Keajaiban di balik tekanan, benar-benar mereka rasakan. Di saat kepanikan akibat pressure melanda, kreativitas yang dihasilkan justru di luar dugaan, jack! Lagu-lagu yang mereka kerjakan justru lebih memuaskan.
Ciri khas RAN yang gemar menyampurkan berbagai elemen musik, kembali muncul.
Apalagi selama proses kreatif, Nino mengakui bahwa mereka nggak pernah terpatok pada satu jenis musik aja dalam membuat lagu. Spontanitas dan influence masing-masing lebih memegang peranan.
"RAN sebenarnya nggak punya kiblat musik tertentu. Kami membawa influence masing-masing, dan kami satuin aja. Dengan makin banyaknya referensi, pas disatuin, hasilnya tentu aja mengejutkan," sambar Nino lagi.
Salah satu hal yang paling mereka kulik adalah nuansa soul ala musisi Motown.
"Kami nyoba nge-revive sound-sound vintage ala motown. Soul vintage gitu lah yang banyak kami kulik sekarang," ujar Asta, tegas.
Eksplorasi mereka nggak berhenti sampai disitu, jack! Di album kedua nanti bakal kedengeran juga unsur rock yang mereka masukkan di salah satu lagu.
"Mungkin rocknya sedikit berbeda dari definisi musik rock kebanyakan ya. Bisa dibilang, ini rocknya RAN. Kami mencoba ngasih bumbu rock di musik pop ala RAN," jelas Nino, singkat.
Imbasnya jelas pada sound yang mereka hasilkan. Demi mendapat hasil yang memuaskan, eksplorasi di sektor sound pun lebih beragam. Berbagai percobaan mereka lakukan. Mulai dari mencoba memakai talkbox, vocoder, sampai keyboard-keyboard vintage, mereka jabanin!
"Kami lebih serius kali ini untuk masalah sound," sambar Asta cepat.
Nggak ada lagi pikiran "hanya cari aman" di kepala mereka. Kali ini mereka lebih berani dalam ngulik sound yang bakal mereka pakai.
Asta misalnya. Diakuinya kalo untuk album kedua ini, dia menggunakan lebih banyak jenis gitar yang berbeda. Malahan, gitar-gitar yang dulu dianggap punya sound yang nggak bakal cocok untuk RAN, berani dipakai oleh Asta.
"Gue coba aja sih semuanya. Hasilnya unik juga menurut gue. Semoga aja orang yang dengerin nggak terlalu kaget," tambah Asta.
Selain sound, sektor vokal juga jadi sorotan mereka kali ini. Nggak bisa dipungkiri kalo peran Rayi sebagai rapper di RAN udah nempel banget di benar banyak orang. Herannya, justru hal ini yang pengen mereka ubah lewat album kedua nanti.
"Kami nggak mau sosok Rayi terjebak dalam posisi yang salah. Orang tahunya dia hanya seorang rapper. Gue rasa, dia lebih pengen nunjukkin bahwa dia adalah penyanyi yang bisa ngerap," jelas Nino, semangat.
Deretan lagu upbeat emang masih bakal jadi andalan RAN. Kondisi industri musik yang lagi dibuai lagu bernuansa mellow, nggak lantas membuat mereka latahDengan penuh keyakinan, mereka tetap membuat musik yang mereka senangi.
"RAN punya mellow-nya sendiri. Kalo pasar lagi suka lagu mendayu-dayu, kami nggak terus harus ikut-ikutan kan? Nggak pernah kami pikirin juga sih kalo kayak gitunya. Apa yang keluar aja yang kami garap," ujar Nino, santai.
Perihal target market juga jadi bahasan yang menarik. Pasalnya, bisa dibilang penikmat lagu RAN terbatas di remaja aja. Sebagai musisi, udah sewajarnya kalo mereka pengen musiknya didengar lebih banyak orang, boy! Eksplorasi yang mereka lakukan adalah salah satu langkah untuk membawa musik RAN ke area yang lebih luas.
"Makanya kami bikin sesuatu yang lebih seru, tapi tetap nggak meninggalkan pakem yang ada. Tujuannya ya kami pengen merangkul pecinta musik secara lebih luas," ujar Asta, serius.
Meskipun mereka nggak mematok harus melakukan pendewasaan di album ini, mereka berharap kerja keras mereka bisa menghasilkan sesuatu yang berbeda. Apalagi, untuk album kedua, mereka nggak lagi menggunakan bantuan seorang music director. Mereka bertiga benar-benar mengerjakan segala sesuatunya sendirian. Tentunya dengan harapan lebih bisa menerjemahkan apa yang jadi keinginan mereka.
Dalam menghadapi album kedua ini, terbilang nggak ada beban di pikiran mereka. Waktu mepet (menurut mereka) berhasil mereka libas. Dan eksplorasi musikalitas (menurut mereka lagi) berhasil mereka lakukan. RAN siap untuk berlari sekali lagi di industri musik Indonesia. Pertanyaannya, bisakah mereka membawa musik RAN ke area yang lebih luas kali ini? Semoga. (Irvin)
Copyright © Hai-Online All Rights reserved 2009
YourComments
Comments